Home Berita KKN MAs UMM Ubah Limbah Kayu dan Sampah Organik Jadi Inovasi, dari...

KKN MAs UMM Ubah Limbah Kayu dan Sampah Organik Jadi Inovasi, dari Biokar hingga Maggot

MALANG – KKN MAs UMM mendorong mahasiswa mengubah persoalan di masyarakat menjadi inovasi yang dapat dimanfaatkan secara langsung. Salah satunya dilakukan kelompok mahasiswa dari Universitas Muhammadiyah Lamongan (UMLA) di Desa Junrejo, Dusun Jeding, Kabupaten Malang.

Melalui program pengabdian tersebut, mahasiswa lintas disiplin mengembangkan sejumlah inovasi berbasis potensi lokal. Mulai dari pengolahan limbah kayu menjadi biokar, budidaya maggot untuk mengelola sampah organik, hingga pengolahan daun kelor menjadi puding sebagai bagian dari upaya mendukung penanganan stunting.

Mahasiswa Universitas Muhammadiyah Lamongan, Imelda Friska Amelia, mengatakan kelompoknya terdiri atas mahasiswa dari sejumlah bidang keilmuan. Selain keperawatan, terdapat mahasiswa dari fakultas hukum, teknik informatika, ekonomi dan bisnis, hingga pendidikan.“Sekitar 10 sampai 12 universitas,” ujar Imelda saat menjelaskan komposisi kelompok KKN.

KKN MAs UMM Manfaatkan Limbah Kayu Menjadi Biokar

Salah satu inovasi yang dikembangkan mahasiswa berangkat dari persoalan limbah industri kayu di Dusun Jeding. Wilayah tersebut memiliki masyarakat yang bergerak sebagai pengrajin kayu sehingga menghasilkan limbah berupa sisa dan bubuk kayu.

Mahasiswa kemudian mengembangkan pemanfaatan limbah tersebut menjadi biokar.Imelda menjelaskan, biokar dari sisa bubuk kayu tersebut diarahkan untuk dimanfaatkan oleh masyarakat yang bekerja sebagai petani maupun pekebun.

“Kebetulan di Desa Junrejo salah satu unggulannya adalah pengrajin kayu. Jadi limbah kayu itu masih banyak,” jelasnya.

Menurut dia, inovasi tersebut dibuat dengan melihat kondisi dan potensi yang memang tersedia di wilayah pengabdian. Dengan demikian, bahan yang sebelumnya menjadi limbah dapat memiliki nilai guna bagi sektor pertanian.

Selain biokar, mahasiswa juga mengembangkan komposter sebagai salah satu pendukung pengelolaan lingkungan dan tanah.

KKN MAs UMM Kembangkan Budidaya Maggot untuk Sampah Organik

Inovasi lain yang dikembangkan kelompok mahasiswa adalah budidaya maggot. Program tersebut diarahkan sebagai salah satu metode pengelolaan limbah organik yang dihasilkan masyarakat.Maggot yang digunakan merupakan larva lalat Black Soldier Fly (BSF). Mahasiswa melakukan sosialisasi dan pendampingan kepada masyarakat sekaligus menjalin kerja sama dengan sejumlah peternak dan tempat pengelolaan sampah atau TPS.“Jadi maggot itu adalah larva dari lalat BSF, untuk pengolahan sampah organik,” kata Imelda.

Program tersebut tidak berhenti pada tahap budidaya. Mahasiswa juga melihat potensi hasil budidaya maggot untuk dimanfaatkan kembali.Bekas atau sisa dari proses budidaya maggot diharapkan dapat digunakan sebagai pupuk. Sementara maggotnya dapat dikembangkan sebagai sumber protein untuk kebutuhan pakan ternak.

Imelda mengatakan program tersebut telah memasuki tahap produksi. Sebelumnya, mahasiswa juga melakukan sosialisasi serta pendampingan kepada masyarakat.Mereka bahkan melakukan percobaan penggunaan hasil budidaya tersebut pada tanaman. Berdasarkan pengamatan mahasiswa selama program berlangsung, tanaman yang diberikan hasil tersebut menunjukkan pertumbuhan.

KKN MAs UMM Sentuh Persoalan Stunting hingga Kesehatan Lansia

Selain mengembangkan inovasi berbasis lingkungan dan pertanian, kelompok mahasiswa juga membuat produk pangan berupa puding kelor.Puding tersebut dibuat dengan memanfaatkan daun kelor dan diarahkan untuk mendukung upaya penanganan stunting di Desa Junrejo, khususnya Dusun Jeding.“Ini kita bikin puding kelor. Kami gagas karena untuk mengatasi salah satunya adalah stunting di Desa Junrejo, Dusun Jeding,” ujar Imelda.

Program kesehatan kelompok tersebut juga menyasar persoalan kesehatan pada kelompok usia lanjut. Imelda menyebut perhatian diberikan terhadap osteoporosis dan diabetes melalui kegiatan di posyandu Dusun Jeding.

Pendekatan tersebut menunjukkan bagaimana mahasiswa dari latar belakang keperawatan dan bidang lainnya dapat menggabungkan program kesehatan dengan potensi bahan pangan lokal.KKN MAs UMM Libatkan 4.780 Mahasiswa dari 49 PTMAInovasi yang dikembangkan kelompok mahasiswa di Dusun Jeding merupakan bagian dari rangkaian KKN MAs 2026 yang melibatkan mahasiswa dari berbagai perguruan tinggi Muhammadiyah dan ’Aisyiyah.

Kepala Divisi Pengabdian Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LPPM) Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), Dr. Arina Restian, S.Pd., M.Pd., menyebut sekitar 4.780 mahasiswa dari 49 PTMA terlibat dalam rangkaian kegiatan tersebut.

Mahasiswa ditempatkan dalam kelompok lintas perguruan tinggi sehingga satu kelompok dapat berisi mahasiswa dari berbagai kampus dan disiplin ilmu. Skema tersebut dirancang agar mahasiswa dapat saling menggabungkan kompetensi ketika menyelesaikan persoalan di wilayah pengabdian.

Arina mengatakan rangkaian kegiatan tersebut menjadi bagian dari upaya mewujudkan mahasiswa yang tidak hanya menjalankan program kerja, tetapi mampu menghasilkan karya yang berdampak.“Mahasiswa berdampak sesuai dengan tagline dari KKN MAs dan juga tagline dari kampus UMM, Mandiri, Inovasi, Berdampak,” kata Arina.

KKN MAs UMM Pamerkan 120 Produk Hasil Pengabdian

Berbagai inovasi mahasiswa kemudian ditampilkan dalam Expo Gelar Produk yang menghadirkan sekitar 120 stand.Produk yang dipamerkan merupakan hasil pelaksanaan KKN selama satu bulan. Sebelum diterapkan di lapangan, program tersebut telah dirancang bersama Dosen Pembimbing Lapangan (DPL) sejak sekitar enam bulan sebelumnya. Menurut Arina, produk yang ditampilkan tidak hanya berupa produk pangan atau kerajinan, tetapi juga teknologi tepat guna yang disesuaikan dengan kebutuhan masyarakat.

Beberapa inovasi yang telah dikembangkan mahasiswa antara lain teknologi Internet of Things (IoT) untuk pertanian di Batu, pengembangan UMKM, kampung wisata, budidaya ikan, hingga teknologi pengolahan air.Salah satu teknologi pengolahan air yang dikembangkan mahasiswa di Malang Selatan bahkan telah diarahkan pada proses pengurusan hak kekayaan intelektual (HKI).KKN MAs UMM Didorong Berlanjut ke HilirisasiArina menegaskan bahwa expo bukan menjadi akhir dari proses pengembangan karya mahasiswa.

Hasil KKN diharapkan tetap mendapat pendampingan setelah mahasiswa menyelesaikan program pengabdian.LPPM UMM juga memiliki unit yang menangani hilirisasi sehingga produk yang dinilai memiliki potensi dapat dikembangkan lebih lanjut melalui kerja sama dengan industri.“Harapannya ini memang betul-betul ide ini tidak berhenti sampai sini karena menjadi dampak nyata,” ujar Arina.

Pendampingan dari DPL menjadi salah satu faktor penting dalam memastikan keberlanjutan tersebut. Produk yang masih berada pada tahap awal diharapkan dapat dikembangkan menjadi inovasi yang memiliki nilai guna dan berpotensi diterapkan secara lebih luas.

Dengan pendekatan tersebut, KKN MAs tidak hanya menjadi ruang bagi mahasiswa untuk belajar langsung di tengah masyarakat. Program ini juga menjadi tempat untuk menguji apakah pengetahuan dan inovasi yang dibawa dari kampus benar-benar mampu menjawab persoalan di lapangan.

Kasus di Dusun Jeding memperlihatkan pola tersebut secara sederhana: limbah kayu diolah menjadi biokar, sampah organik dimanfaatkan melalui budidaya maggot, sementara potensi daun kelor dikembangkan menjadi produk pangan untuk mendukung program kesehatan masyarakat.

Pada akhirnya, ukuran keberhasilan pengabdian bukan hanya seberapa banyak program yang terlaksana, tetapi seberapa jauh inovasi tersebut dapat terus digunakan masyarakat setelah mahasiswa meninggalkan lokasi KKN.(Raf)