MALANG – Menikmati musik jazz di Indonesia kini telah berevolusi menjadi sebuah pengalaman ruang dan lanskap yang memukau. Pertunjukan musik jazz yang sebelumnya identik dengan kenyamanan di dalam gedung berpendingin ruangan, kini mulai bergerak keluar menuju alam terbuka. Fenomena ini menjadi magnet kuat yang berhasil memadukan keintiman apresiasi musik jazz etnik dengan pesona pariwisata kawasan pegunungan, laut, hingga situs bersejarah Nusantara.
Mendobrak Batas Gedung Menuju Alam dan Candi
Para pecinta musik kini sering kali menjadikan pertunjukan jazz di alam terbuka sebagai salah satu agenda utama dalam rencana liburan mereka. Menikmati alunan musik jazz sembari merasakan sejuknya udara pegunungan serta memandangi keindahan lanskap alam terbukti memberikan sensasi unik dan penyegaran tersendiri.Konsep panggung tanpa sekat yang hanya beratapkan langit ini perlahan merambah luas ke kawasan dataran tinggi dan situs-situs bersejarah. Salah satu destinasi populernya adalah “Jazz Atas Awan” yang diselenggarakan di dataran tinggi Dieng, yang mana pengunjung tidak hanya disuguhkan tontonan musik, tetapi juga dapat sembari menjelajahi kawasan sejarah seperti rangkaian Candi Pandawa.
Selain berpusat di daerah pegunungan, tren hiburan alam terbuka ini juga menyentuh kawasan pesisir melalui acara Maumere Jazz Fiesta Flores yang digelar di bagian timur Indonesia secara gratis demi menggaungkan potensi wisata budaya setempat.
Jazz Gunung Bromo Sang Pelopor yang Konsisten
Berbicara tentang merebaknya tren jazz di alam terbuka tentu tidak akan lepas dari nama Jazz Gunung, yang dikenal luas sebagai pelopor dari festival musik pegunungan di tanah air. Ajang ikonik Jazz Gunung Bromo 2026 baru saja sukses diselenggarakan pada tanggal 24 hingga 25 Juli 2026. Memasuki edisi pelaksanaannya yang ke-18 sejak pertama kali dihelat pada tahun 2009, festival tahun ini mengambil lokasi tetapnya di Amfiteater Jiwa Jawa Resort Bromo, Kabupaten Probolinggo.
Berada di ketinggian sekitar 2.000 meter di atas permukaan laut, para penonton dapat menyaksikan pagelaran musik dengan duduk di bangku dari bebatuan yang beralaskan rumput. Mereka disuguhi pemandangan luar biasa dari panggung amfiteater yang berlatarkan kemegahan Pegunungan Tengger.
Pada perhelatan hari pertama, suasana Bromo yang suhunya sempat menurun hingga di bawah angka 10 derajat celsius sukses dihangatkan oleh penampilan memukau dari sederet musisi lintas genre. Panggung sore diisi oleh penampilan ciamik dari trio jazz asal Taiwan, Plutato, yang berkolaborasi dengan Cait Lin. Kesyahduan berlanjut lewat deretan lagu dari Bilal Indrajaya yang menemani momen transisi senja penonton, sebelum akhirnya panggung kembali dimeriahkan oleh Batavia Collective sesudah waktu istirahat. Keseruan hari pembuka festival ini lantas ditutup dengan sangat energik oleh musisi Isyana Sarasvati.
Menyatukan Musik, Manusia, dan Ekonomi Kreatif Lokal
Semboyan puitis yang berbunyi “Indahnya Jazz, Merdunya Gunung” adalah roh dari festival yang awalnya digagas oleh tiga serangkai pecinta seni: Sigit Pramono, Butet Kartaredjasa, serta mendiang Djaduk Ferianto. Menurut Sigit Pramono, festival perintis ini pada dasarnya tercipta dari penggabungan dua hobinya, yakni memotret keindahan lanskap pegunungan dan mendengarkan karya musik jazz.
Seiring berjalannya waktu, gelaran di alam terbuka telah menjelma lebih dari sekadar pentas hiburan, namun bertumbuh menjadi ekosistem kolaborasi yang mewadahi seniman, komunitas akar rumput, serta roda penggerak pariwisata. Pada edisi Jazz Gunung Bromo 2026, penyelenggara secara aktif bersinergi bersama Kementerian Pariwisata dan Pemerintah Kabupaten Probolinggo dengan tujuan mendongkrak pariwisata, seni budaya, serta ekonomi kreatif di kawasan Bromo. Implementasi dari upaya ini salah satunya terlihat dari ketersediaan area khusus yang menampung para pelaku Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM), di mana penonton dapat membeli ragam suvenir serta kuliner khas buatan warga lokal.
Keberhasilan acara-acara semacam ini kembali mengukuhkan fakta bahwa pesona alam Indonesia, jika dipadukan dengan harmoni musik yang apik, mampu membentuk sebuah mahakarya atraksi wisata berkelanjutan yang sangat memikat di mata wisatawan domestik maupun internasional.(sd/rul)











