MALANG — Suasana Gelanggang Olahraga (GOR) Ken Arok mendadak bergemuruh dan berubah menjadi lautan warna-warni pada Minggu (23/8) pagi. Sebanyak 60 kelompok senam dari berbagai penjuru Malang Raya tumpah ruah mengikuti ajang Senam Kreasi ‘Haha-Hihi’ yang diinisiasi oleh Dewan Pimpinan Pusat (DPP) Partai Kebangkitan Bangsa (PKB).
Sejumlah tokoh penting tampak hadir membaur di tengah ribuan peserta dari kaum hawa yang tampil kreatif mengenakan kostum unik. Di antaranya Sekretaris Jenderal (Sekjen) DPP PKB, Hasanuddin Wahid, serta Ketua DPC PKB Kota Malang sekaligus Anggota DPRD Provinsi Jawa Timur, Hikmah Bafaqih.
Lahir dari Apresiasi, Diberi Nama Unik “Haha-Hihi”
Ajang senam meriah ini ternyata berawal dari gagasan spontan antara Hasanuddin Wahid dan Hikmah Bafaqih. Keduanya ingin mewadahi tingginya antusiasme kaum ibu dan perempuan di Malang yang selama ini rutin melaksanakan senam mandiri di lingkungan masing-masing tanpa diminta.
“Kami mau mengapresiasi mereka. Akhirnya bertemu membuat lomba senam kreasi dalam rangka peringatan Kemerdekaan RI. Karena yang menyelenggarakan saya sama Mbak Hikmah, maka namanya senam kreasi Haha-Hihi. Itu singkatan dari Hasan-Hikmah,” ujar Hasanuddin disambut senyum hangat para peserta.
Di balik kemeriahan hari H, Hikmah Bafaqih menilai daya tarik utama justru terlihat dari proses persiapan di akar rumput. Latihan rutin yang digelar menjelang perlombaan terbukti sukses mengonsolidasikan satu kampung melibatkan anggota kelompok senam, para suami, keluarga, hingga pengurus RT setempat.
Selipkan Pesan Sosial: Darurat Perkawinan Anak
Tak sekadar menjadi ajang unjuk kekompakan dan gaya hidup sehat, momentum berkumpulnya puluhan kelompok senam ini juga dimanfaatkan sebagai ruang edukasi publik yang krusial. Wakil Ketua Komisi E DPRD Jatim tersebut menegaskan pentingnya mengampanyekan pencegahan perkawinan anak secara masif.
Kolaborasi bersama PP Lakpesdam NU dan Fatayat NU Kabupaten Malang melalui program Inklusi digalakkan langsung di tengah komunitas melalui pendekatan persuasif, mulai dari obrolan santai hingga pembagian flyer literasi. Menurut Hikmah Bafaqih, angka permohonan dispensasi perkawinan anak di Kabupaten Malang menunjukkan tren penurunan yang positif, di mana jumlah pemohon yang sebelumnya sempat mencapai rekor tertinggi se-Jawa Timur pada 2022 sebanyak sekitar 9.600 kini telah turun menjadi sekitar 7.000-an.
“Meski berangsur turun, persoalan ini tidak boleh dianggap remeh karena menyangkut masa depan anak secara menyeluruh,” tegas Hikmah.
Bahaya di Balik Pernikahan Dini
Hikmah,menambahkan bahwa mencegah perkawinan anak bukan sekadar menunda pernikahan, melainkan memastikan anak-anak memiliki hak tumbuh, pendidikan, dan kesiapan matang. Dari sisi medis, anak perempuan belum siap secara fisik untuk menjalani kehamilan dan persalinan.
“Secara medis berbahaya karena anak perempuan belum siap untuk menjadi ibu dan melahirkan di usia yang masih sangat muda. Belum lagi kesiapan mental, sosial, ekonomi, dan spiritual yang belum matang, sehingga sangat rawan memicu konflik, KDRT, hingga perceraian,” terangnya.
Melalui pendekatan kreatif di sela-sela kegiatan olahraga seperti Senam ‘Haha-Hihi’, PKB berharap pesan moral dan sosial pencegahan perkawinan anak dapat merasuk ke dalam kesadaran keluarga serta komunitas, menjadikan perayaan kemerdekaan kian bermakna bagi masa depan generasi bangsa.

Kelompok Starlight Sabet Juara Pertama
Dalam perlombaan tersebut, kelompok Starlight berhasil meraih juara pertama. Penyelenggara memberikan hadiah dan uang pembinaan kepada para pemenang sebagai bentuk apresiasi atas kreativitas dan kekompakan mereka.
Juara pertama mendapatkan hadiah Rp5 juta, juara kedua Rp4 juta, dan juara ketiga Rp3 juta. Sementara itu, Juara Harapan 1 mendapatkan Rp2 juta dan Juara Harapan 2 memperoleh Rp1 juta. Peserta yang masuk peringkat 6 hingga 10 masing-masing memperoleh uang pembinaan Rp500.000. (rul)











