MALANG – Fenomena salah kaprah di masyarakat Indonesia yang mengabaikan fungsi praktis bahasa Arab sebagai produk budaya profan memicu diskusi hangat mengenai batasan antara agama dan budaya.
Banyak orang Indonesia secara keliru langsung melabeli segala hal yang berbau bahasa Arab sebagai sesuatu yang bernilai religius atau sakral karena keterikatan bahasa tersebut dengan kitab suci.
Masyarakat Arab di Timur Tengah menggunakan bahasa mereka untuk berbagai kebutuhan sekuler manusiawi pada umumnya. Faktanya, masyarakat Arab, seperti warga Mesir, memiliki kekayaan kosakata umpatan biologis (pisuhan) hingga lagu-lagu bergenre jazz dan pop yang sama sekali tidak ada hubungannya dengan nilai spiritualitas agama Islam.
Anggapan keliru ini terjadi akibat kurangnya pemahaman bahwa bahasa Arab juga digunakan oleh pemeluk agama lain di Timur Tengah, seperti umat Nasrani di Mesir yang fasih mengucapkan kalimat seperti “Subhanallah” dengan preferensi ketuhanan mereka sendiri.
Pesan penting dari fenomena ini adalah perlunya kedewasaan masyarakat dalam membedakan antara bahasa sebagai produk budaya dan bahasa sebagai medium agama. Bahasa Arab pada hakikatnya adalah alat komunikasi profan yang bersifat universal bagi penuturnya.
Menyamaratakan semua hal yang berbahasa Arab sebagai sesuatu yang sakral tidak hanya menunjukkan kedangkalan berpikir, tetapi juga membuat kita kehilangan akal sehat ketika dihadapkan pada realitas budaya Arab yang sebenarnya. (ais/raf)











