MALANG — Federasi Sepak Bola Internasional (FIFA) bersama deretan musisi papan atas dunia kembali menghidupkan atmosfer turnamen sepak bola terakbar melalui peluncuran lagu tema resmi Piala Dunia 2026 yang digelar di tiga negara tuan rumah, yaitu Amerika Serikat, Kanada, dan Meksiko.
Kehadiran lagu resmi seperti “Dai Dai” yang dibawakan oleh kolaborasi Shakira dan Burna Boy ini sengaja dirancang untuk menyatukan miliaran pasang mata penggemar dari berbagai penjuru bumi lewat harmoni musik yang energik.
Fenomena ini membuktikan bahwa sejak pertama kali FIFA memperkenalkan lagu resmi turnamen pada Piala Dunia 1962 di Chile melalui “El Rock del Mundial”, musik telah bertransformasi menjadi identitas kultural yang tidak terpisahkan dari euforia pesta olahraga empat tahunan tersebut.
Sejak era modern yang dibuka oleh hentakan pop-Latin Ricky Martin lewat “La Copa de la Vida” di Prancis 1998, disusul sentuhan elektronik Anastacia pada 2002, kemegahan emosional Il Divo pada 2006, hingga fenomena global “Waka Waka” oleh Shakira di Afrika Selatan 2010, FIFA secara konsisten memadukan tren musik global dengan keragaman budaya lokal.
Strategi penyusunan soundtrack ini terus diperbarui dari masa ke masa, termasuk kombinasi reggaeton-pop di Rusia 2018 hingga multikulturalisme Timur Tengah lewat lantunan Jungkook BTS di Qatar 2022, guna memastikan setiap generasi penonton memiliki memorabilia audio yang khas atas momen-momen magis di atas lapangan hijau.
Pada edisi terbaru, estafet kejayaan lagu tema ini dilanjutkan dengan sangat apik. Lagu “Dai Dai” tidak hanya membawa kembali nostalgia kejayaan “Waka Waka”, tetapi juga menyuguhkan kombinasi modern antara musik pop, Latin, dan afrobeat yang mencerminkan inklusivitas serta semangat keberagaman benua Amerika Utara selaku tuan rumah bersama.
Hal terpenting yang dapat dipetik dari konsistensi kehadiran lagu-lagu Piala Dunia ini adalah bahwa musik memiliki kekuatan universal yang melampaui sekat-sekat perbedaan budaya, tensi kompetisi, maupun skor akhir pertandingan di lapangan.
Di tengah perubahan zaman dan pergeseran tren industri, soundtrack Piala Dunia tetap berdiri teguh sebagai jembatan emosional kolektif, ia tidak sekadar berfungsi sebagai musik pengiring pertandingan, melainkan sebuah warisan budaya abadi yang mampu menyatukan jutaan manusia dari berbagai latar belakang ke dalam satu frekuensi kenangan yang sama. (ais/raf)











