Home Berita BPBD Catat 232 Bencana Hantam Kabupaten Malang, Pujon dan Kasembon Terparah

BPBD Catat 232 Bencana Hantam Kabupaten Malang, Pujon dan Kasembon Terparah

MALANG – Pusat Pengendalian Operasi Penanggulangan Bencana (Pusdalops PB) BPBD Kabupaten Malang merilis data resmi yang mencatat 232 kejadian bencana melanda wilayah Kabupaten Malang selama periode Januari hingga Juni 2026.

Berdasarkan laporan yang dirilis pertengahan Juli 2026 tersebut, bencana hidrometeorologi basah seperti tanah longsor (71 kasus) dan cuaca ekstrem (42 kasus) menjadi dominasi utama di samping rentetan gempa tektonik.

Rangkaian peristiwa ini mengakibatkan kerugian besar dengan 3 korban jiwa, 7 luka-luka, 1 hilang, 671 warga terdampak, serta kerusakan ratusan rumah dan 15.264 hektar lahan pertanian/peternakan.

Anomali cuaca bercurah hujan tinggi yang mengguyur wilayah hulu serta kondisi topografi perbukitan terjal menjadi faktor pemicu utama tingginya frekuensi bencana ini.

Puncak ancaman terjadi pada Januari dengan 57 kejadian dan Maret sebanyak 48 kejadian. Kawasan Malang barat dan utara ditetapkan sebagai wilayah paling rawan, di mana Kecamatan Pujon mencatatkan angka tertinggi sebesar 22 kejadian, disusul Kecamatan Kasembon sebanyak 17 kejadian.

Di sisi lain, akumulasi 74 gempa bumi di pesisir selatan turut mengonfirmasi tingginya potensi risiko seismik laten di zona subduksi aktif.

Imbauan Penting BPBD Kabupaten Malang:

Menghadapi potensi ancaman lanjutan, BPBD meminta masyarakat, khususnya yang berada di kawasan lereng, area rawan angin kencang, dan wilayah pesisir, untuk memperkuat kesiapsiagaan mandiri.

Langkah-langkah kewaspadaan yang perlu diterapkan masyarakat meliputi:

  1. Deteksi Dini Tanah Longsor
    Segera laporkan dan appeared waspada jika menemukan retakan tanah atau resapan air keruh saat hujan deras berdurasi lebih dari satu jam.
  2. Pemangkasan Pohon Berisiko
    Merapikan dahan pohon tua atau rimbun di sekitar pemukiman untuk mengantisipasi angin kencang.
  3. Penguatan EWS Komunitas
    Mengaktifkan kembali Sistem Peringatan Dini (Early Warning System) berbasis warga seperti kentongan atau grup siaga bencana desa.
  4. Edukasi Mitigasi Gempa
    Memahami langkah perlindungan diri (Drop, Cover, Hold On) serta jalur evakuasi saat terjadi guncangan.

(AIS/RAF)