JAKARTA — Pemerintah memastikan harga bahan bakar minyak (BBM) bersubsidi tidak akan mengalami kenaikan hingga akhir 2026. Keputusan itu diambil setelah Presiden Prabowo Subianto memberikan arahan kepada Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM).
Menteri ESDM Bahlil Lahadalia mengatakan kebijakan tersebut didukung kondisi pasokan energi nasional yang masih berada di atas batas minimum. Menurut dia, ketersediaan solar, bensin, dan LPG dalam kondisi aman sehingga pemerintah optimistis mampu menjaga stabilitas pasokan hingga akhir tahun.”Stok kita berada di atas standar minimum, baik solar, bensin maupun LPG. Atas arahan Bapak Presiden, kami telah bersepakat bahwa harga BBM subsidi tidak akan dinaikkan sampai akhir tahun,” kata Bahlil seusai bertemu Presiden di Istana Negara.
Keputusan mempertahankan harga BBM subsidi diambil untuk menjaga daya beli masyarakat di tengah ketidakpastian ekonomi global dan fluktuasi harga energi internasional.Sejak penyesuaian terakhir pada 1 Juli 2026, harga BBM di berbagai SPBU belum mengalami perubahan. Di SPBU Pertamina wilayah Jakarta, Pertalite dijual Rp10.000 per liter, Solar subsidi Rp6.800 per liter, Pertamax Rp16.250 per liter, Pertamax Turbo Rp19.300 per liter, Pertamax Green Rp17.000 per liter, Dexlite Rp19.700 per liter, dan Pertamina Dex Rp21.150 per liter.SPBU Shell juga mempertahankan harga produknya.
Shell kembali memasarkan V-Power Diesel setelah sempat mengalami keterbatasan pasokan pada awal tahun dengan harga Rp21.340 per liter.Sementara itu, BP masih menjual BP Ultimate seharga Rp17.240 per liter, BP 92 Rp16.670 per liter, dan BP Ultimate Diesel Rp21.340 per liter.
Pemerintah menilai stabilitas harga BBM bersubsidi menjadi salah satu langkah untuk menjaga inflasi tetap terkendali sekaligus memberikan kepastian bagi masyarakat dan pelaku usaha. Hingga saat ini belum ada rencana mengubah kebijakan tersebut meski harga minyak dunia masih berfluktuasi. (sd/rul)











