Home Berita Dongkrak Perekonomian Warga, UNIRA Latih Petani Olah Melon Afkir Jadi Cuan

Dongkrak Perekonomian Warga, UNIRA Latih Petani Olah Melon Afkir Jadi Cuan

BLITAR– Potensi sektor pertanian melon di Desa Tumpakkepuh, Kecamatan Bakung, Kabupaten Blitar, kini kian termanfaatkan secara maksimal. Melalui program Pengabdian kepada Masyarakat (PkM) yang didanai Direktorat Riset, Teknologi, dan Pengabdian kepada Masyarakat (DRTPM), Universitas Islam Raden Rahmat (UNIRA) Malang sukses mendampingi Kelompok Tani Langgeng menerapkan konsep Zero Waste Farming.

Selama ini, buah melon yang tidak lolos standar pasar atau dikenal sebagai non-grade kerap dianggap sebelah mata karena nilai jualnya yang rendah. Tak hanya itu, limbah kulit melon hasil budidaya pun sering kali terbuang sia-sia tanpa pengelolaan lanjutan.

Melihat celah tersebut, tim dosen UNIRA Malang yang diketuai oleh Dr. Yulia Eka Yanti, M.Pd, bersama anggota Dr. Tety Nur Cholifah, M.Pd, dan Dr. Zainal Abidin, M.Si, turun tangan memberikan solusi nyata. Mereka membekali para petani dengan pelatihan komprehensif mulai dari pengolahan pascapanen, pembuatan produk bernilai tambah, hingga digitalisasi pemasaran.

“Melalui kegiatan ini, kami ingin membantu kelompok tani agar tidak hanya menjual hasil panen dalam bentuk buah segar, tetapi juga mampu mengolah melon non-grade menjadi produk dengan nilai jual yang jauh lebih tinggi,” ujar Yulia Eka Yanti.

Dalam pelaksanaannya, anggota Kelompok Tani Langgeng dilatih langsung meracik buah afkir tersebut menjadi kudapan lezat berupa dodol melon dan stik melon yang memiliki cita rasa khas. Tak berhenti di situ, limbah kulit melon yang sebelumnya menjadi beban lingkungan disulap menjadi eco enzyme yang ramah lingkungan dan mendukung konsep ekonomi sirkular.

Guna memperluas jangkauan pasar, tim pengabdian juga memberikan pendampingan intensif terkait penyusunan Standar Operasional Prosedur (SOP) produksi, pengembangan branding, hingga pemanfaatan teknologi digital seperti WhatsApp dan marketplace Shopee sebagai sarana promosi modern.

Ketua Kelompok Tani Langgeng menyambut antusias program kolaboratif ini. Menurutnya, pelatihan yang diberikan membuka wawasan baru bagi para petani dalam mendiversifikasi produk pertanian lokal.

“Kami sangat terbantu. Kini kami tahu cara mengolah melon non-grade menjadi produk bernilai jual tinggi sekaligus memanfaatkan limbah kulitnya. Harapannya, program ini bisa terus berlanjut,” ungkapnya.

Melalui sinergi erat antara perguruan tinggi dan masyarakat ini, UNIRA Malang berharap Kelompok Tani Langgeng mampu mandiri secara ekonomi dan menjadikan produk olahan serta eco-enzyme sebagai ikon keunggulan baru di Desa Tumpakkepuh. Inovasi ini sekaligus menjadi bukti nyata kontribusi akademisi dalam menggerakkan roda perekonomian lokal berbasis potensi daerah.(ram/rul)