MALANG – Setiap memasuki tahun ajaran baru, atmosfer di sekitar kampus-kampus besar selalu mendadak berubah. Bukan cuma soal antusiasme puluhan ribu mahasiswa baru (maba) yang bersiap menempuh jenjang pendidikan tinggi, melainkan juga tentang perputaran uang bernilai fantastis di baliknya.
Di luar biaya kuliah dan tempat tinggal, ada satu “ritual” tahunan yang tak pernah absen memutar roda ekonomi lokal; Orientasi Studi dan Pengenalan Kampus (Ospek).
Ospek tak lagi sekadar agenda pengenalan kampus, melainkan telah menjelma menjadi sebuah “kerajaan bisnis” musiman. Dari pita warna-warni, name tag berukuran spesifik, hingga barang-barang nyeleneh yang masuk dalam daftar penugasan, semuanya menjadi ladang cuan manis bagi para pedagang atribut ospek.
Mengeruk Keuntungan di Tengah Kepanikan Maba
Bagi para pedagang atribut, momen ospek adalah jackpot tahunan. Keuntungan yang diraup tidak main-main—bisa mencapai puluhan hingga ratusan persen dibanding hari-hari biasa.
Mengapa bisnis ini begitu menguntungkan?
- Tingkat Kebutuhan Serentak
Ribuan maba membutuhkan barang yang sama dalam kurun waktu yang sangat mendesak. - Faktor Psikologis (Kepanikan Maba)
Adanya rasa takut terkena sanksi atau bentakan dari senior jika perlengkapan tidak sesuai spesifikasi membuat maba rela merogoh kocek berapa pun tanpa banyak menawar. - Paket Bundling
Pedagang yang cerdik biasanya menjual barang dalam bentuk “Paket Lengkap Ospek”, mematok harga lebih tinggi dengan klaim kepraktisan. Bagaimana Pedagang Mengetahui Detail Kebutuhan Ospek?
Sering kali muncul pertanyaan: Bagaimana bisa para pedagang tahu detail spesifikasi barang yang bahkan baru diumumkan panitia beberapa jam sebelumnya?
Rahasia “intelijen bisnis” para pedagang ini sebenarnya berakar dari kombinasi kejelian, jaringan lokal, dan era digital:
- Jaringan “Orang Dalam” dan Alumni
Tidak sedikit pedagang yang sudah menjalin komunikasi dengan mahasiswa senior atau panitia ospek dari tahun-tahun sebelumnya. Pola penugasan ospek tiap fakultas biasanya memiliki benang merah yang mirip dari tahun ke tahun. - Pemantauan Media Sosial secara Real-Time
Hari ini, panitia ospek hampir selalu mengunggah buku panduan atau daftar penugasan melalui akun Instagram, Twitter (X), atau situs resmi. Pedagang memantau akun-akun tersebut sama sigapnya dengan maba. - Pemberdayaan Maba Pertama yang Datang
Pedagang memanfaatkan maba yang datang pertama kali untuk bertanya, “Dek, penugasannya disuruh bawa apa saja?” Begitu mendapat satu lembar panduan, pedagang langsung memfoto, memperbanyak, dan memproduksi/menyetok barang tersebut dalam hitungan jam.
Di balik manisnya margin keuntungan bisnis ospek, ada harga sosial yang harus dibayar mahal oleh masyarakat umum. Fenomena ini terlihat jelas di kawasan Jalan Veteran, salah satu urat nadi kawasan pendidikan yang selalu menjadi titik kumpul pedagang atribut musiman.
Lapak-lapak bongkar-pasang, terpal yang dibentangkan sembarangan, hingga gantungan barang-barang ospek merambah dan mengokupasi area pedestrian (trotoar). Hak pejalan kaki, termasuk maba itu sendiri dan masyarakat umum, seketika terampas.
Pejalan kaki terpaksa mengalah dan berjalan di bahu jalan raya, mempertaruhkan keselamatan mereka di tengah padatnya lalu lintas kendaraan yang melintas. Trotoar yang seharusnya menjadi ruang publik yang aman dan ramah penyeberang jalan, mendadak berubah fungsi menjadi pasar kaget yang semrawut dan memicu kemacetan parah.
Kerajaan bisnis ospek memang memberi riak gairah pada ekonomi kerakyatan dan UMKM musiman. Namun, ketika proses pencarian rezeki tersebut mulai melanggar ketertiban umum dan mengambil hak-hak dasar pejalan kaki di kawasan seperti Jalan Veteran, harus ada batas tegas yang ditarik.
Pihak kampus dan pemerintah daerah sudah sepatutnya mulai menata dan memfasilitasi ruang bagi para pedagang atau setidaknya, merevisi tradisi penugasan ospek agar tidak lagi membebankan barang-barang rumit yang memicu histeria pasar kaget di atas trotoar kota. (SID/RAF)











