MALANG — Pasedherekan Trah Hamengku Buwono (HB) II semakin mantap menancapkan komitmennya dalam menjaga dan merawat warisan leluhur (nguri-uri budaya). Langkah strategis ini ditandai dengan ekspansi kepengurusan yang kini mulai merambah wilayah Jawa Timur, termasuk Kota Malang.
Kehadiran organisasi ini di Malang digawangi oleh perwakilan pengurus lokal. Langkah perluasan wilayah tersebut merupakan bentuk manifestasi nyata dari amanat Pengageng Keraton Yogyakarta agar Trah HB II memiliki jaringan perwakilan di seluruh penjuru Nusantara. Guna memperkuat legalitas formal serta memperluas jangkauan sosial di tengah masyarakat, organisasi ini kini telah berbadan hukum dengan nama Putra Narendra Nusantara.
Ketua Pasedherekan Trah Hamengku Buwono II, Raden Hendro Marwoto, menegaskan bahwa ekspansi ini bukan sekadar agenda seremonial, melainkan panggilan moral untuk mendekatkan nilai-nilai tradisi kepada masyarakat secara berkelanjutan.
“Kami berkomitmen penuh untuk terus nguri-uri kebudayaan Jawa dan Nusantara agar tetap hidup dan dicintai generasi masa kini. Melalui perluasan jejaring yang perlahan merambah Jawa Timur, khususnya di Malang, kami ingin memastikan bahwa nilai-nilai keluhuran Trah HB II dapat dirasakan langsung dan membumi di tengah masyarakat luas,” ungkap Raden Hendro Marwoto di Malang, Sabtu (8/8/2026).
Tiga Pilar Agenda Utama dan Konsistensi Pelestarian
Dalam menggerakkan roda organisasinya, Pasedherekan Trah HB II memegang teguh tiga pilar agenda tahunan yang bersifat mutlak, meliputi:
Nyadran: Tradisi ziarah dan pembersihan makam leluhur sebagai bentuk penghormatan.
Syawalan: Ajang silaturahmi akbar untuk mempererat kekeluargaan.
Jamasan Pusaka: Ritual pembersihan benda pusaka yang pada agenda terakhir berhasil merawat lebih dari 150 pusaka milik berbagai kalangan, mulai dari tokoh masyarakat hingga pejabat publik.
Selain ritual tradisi, organisasi ini juga aktif menggelar program edukatif seperti Pendidikan Latihan (Diklat) Ngadibusana. Program ini bertujuan membimbing publik mengenai tata cara berpakaian adat Jawa yang benar dan sesuai pakem Keraton. Tak hanya itu, mereka turut mengenalkan kembali warisan seni adiluhung, salah satunya motif batik peninggalan HB II yaitu Bronto Mangun yang memiliki ciri khas ikonik berupa gambar burung cenderawasih.

Terbuka untuk Umum Tanpa Batas Sekat
Meski saat ini tercatat sebanyak 106 anggota keturunan yang telah memiliki keanggotaan resmi berbekal surat kancingan Keraton Yogyakarta, Raden Hendro memastikan bahwa Pasedherekan Trah HB II bersifat inklusif. Organisasi ini sangat terbuka untuk membaur dengan masyarakat umum tanpa ada batasan sosial maupun birokrasi yang kaku.
“Sosok Sultan adalah milik rakyat. Oleh karena itu, seluruh kegiatan kebudayaan ini kami jalankan atas dasar semangat kebersamaan, gotong royong, dan tanpa ada pungutan biaya iuran bulanan bagi siapa saja yang ingin bergabung dan mencintai budaya,” pungkasnya. (rully novianto)











