Home Berita Budaya Kreativitas Taufik Hidayat Hidupkan Aksara Jawa melalui Kartu Permainan

Kreativitas Taufik Hidayat Hidupkan Aksara Jawa melalui Kartu Permainan

Taufik Hidayat menunjukkan kartu Aksara Jawa hasil kreasinya kepada malangsatu.co. (Foto : M Ramadhan Jurnalista)

MALANG – Di tangan seorang seniman, warisan budaya leluhur tidak pernah benar-benar mati, ia hanya menunggu cara pandang baru untuk kembali hidup. Itulah semangat yang dibawa oleh Taufik Hidayat, seorang pelukis, pematung, sekaligus lulusan Seni Rupa Universitas Negeri Surabaya (Unesa) angkatan 1994.

Berangkat dari kegelisahannya melihat generasi muda yang semakin asing dengan aksara Jawa, Taufik menciptakan sebuah terobosan segar: Kartu Aksara Jawa. Inovasi ini memadukan unsur permainan tradisional modern dengan edukasi budaya, yang kini telah mengantongi Hak Kekayaan Intelektual (HAKI) atas hak ciptanya.

Mengapa Kartu? Solusi Belajar Tanpa Rasa Bosan

Bagi sebagian besar pelajar, menghafal dan membaca aksara Jawa sering kali dianggap sebagai momok yang membosankan. Taufik melihat celah ini dan mengubah metode pembelajaran menjadi sebuah aktivitas rekreasi.

“Kenapa kartu? Karena ada unsur permainan di dalamnya, sehingga anak-anak muda tidak merasa bosan. Mereka bisa belajar sambil bermain tanpa merasa sedang digurui,” ungkap Taufik kepada malangsatu.co saat ditemui di sela acara Kongres Budaya Nasional, di Pendopo Kabupaten Malang, Sabtu (8/8/2026).

Sebagai seorang seniman, Taufik merancang desain kartu ini dengan detail estetika yang kuat. Kartu Aksara Jawa ini terdiri dari berbagai elemen unik yang merepresentasikan karakter dan struktur visual yang unik.

“Terdiri dari 20 kartu karakter keriting hitam, 20 kartu wajik, 20 kartu waru merah, 20 kartu waru hitam, ditambah Gareng, Petruk, dan Bagong, sebagai pengganti joker,” imbuh pria yang terkenal nyentrik itu.

Produksi, Distribusi, dan Perluasan Gerakan

Meski pertama kali dilaunching secara resmi di Surabaya, proses cetak kartu ini dipercayakan kepada industri kreatif lokal di Malang. Langkah ini sekaligus memberdayakan ekosistem UMKM local yang bergerak di bidang percetakan daerah.

Untuk memperluas jangkauan agar bisa diakses oleh masyarakat luas, Kartu Aksara Jawa kini dipasarkan secara offline maupun online, menjadikannya mudah dibeli oleh sekolah, komunitas, maupun orang tua yang ingin mengenalkan aksara daerah kepada anak-anak mereka.

Sebagai bagian dari tur pengenalan, peluncuran jilid kedua (launching ke-2) dijadwalkan akan berlangsung di sampang pada tanggal 19–20 Agustus mendatang, guna menjangkau lebih banyak basis massa di wilayah Madura dan Jawa Timur secara lebih masif.

Dukungan Regulasi

Gerakan Taufik rupanya mendapat sambutan serius, terbukti dalam Kongres Budaya Nasional, idenya,  mendapat apresiasi dari peserta kongres. Ada tiga poin krusial yang direkomendasikan dalam kongres tersebut untuk memperkuat posisi aksara Jawa di ruang publik dan institusi pendidikan:

1. Integrasi Pendidikan: Melakukan pembelajaran menggunakan Kartu Aksara Jawa secara berjenjang, mulai dari tingkat Sekolah Dasar (SD) hingga Perguruan Tinggi.

2. Desakan Regulasi Pemerintah: Mendorong pemerintah pusat maupun daerah untuk segera mengeluarkan aturan resmi seperti Peraturan Presiden (Perpres) atau regulasi turunan lainnya yang mewajibkan pembelajaran aksara Jawa dalam beragam konteks kebahasaan.

3. Penggunaan Resmi oleh Pemerintah: Mendesak instansi pemerintah untuk mulai mengintegrasikan dan menggunakan aksara Jawa dalam ruang publik, dokumen resmi, maupun identitas visual administratif.

Kompetisi Aksara Jawa

Tidak berhenti pada penjualan produk semata, Taufik Hidayat bersama para pegiat budaya berencana untuk mengadakan kompetisi Kartu Aksara Jawa dalam waktu dekat. Kompetisi ini diharapkan mampu memicu antusiasme kompetitif di kalangan pelajar, sekaligus membuktikan bahwa aksara tradisional dapat bertransformasi menjadi sarana hiburan yang edukatif dan membanggakan di era modern.

Melalui goresan seni, ketekunan riset, dan visi kebangsaan yang kuat, Taufik Hidayat telah membuktikan bahwa merawat tradisi tidak harus kaku. Lewat selembar kartu, aksara Jawa kini siap kembali ke tangan generasi penerus bangsa.(ram/rul)