MALANG — Alunan musik Arab dan selawat bernuansa Timur Tengah bukan lagi sekadar tren musiman di lingkungan pondok pesantren di Malang, Jawa Timur. Hingga Juli 2026, jenis musik ini telah mengakar menjadi bagian dari identitas kultural dan aktivitas keseharian para santri, melampaui fungsi dasarnya sebagai hiburan.
Fenomena ini tumbuh subur karena karakteristik musik Arab yang multifungsi. Selain menjadi media kasual untuk memperdalam kemampuan berbahasa, musik religi ini bertransformasi menjadi sarana peningkatan spiritualitas yang selaras dengan norma pesantren. Melalui lirik-liriknya, santri dapat mengasah kemampuan mendengar (istima’) sekaligus memperkaya kosakata (mufrodats) dengan cara yang rekreatif.
Laboratorium Bahasa dan Dzikir Berlagu
Di sela-sela padatnya aktivitas mengkaji kitab kuning, tata bahasa (nahwu), dan morfologi (sharaf), musik Arab hadir sebagai “laboratorium bahasa” yang cair bagi para santri. Mendengarkan lagu-lagu Timur Tengah membantu mereka melatih kepekaan telinga terhadap dialek asli dan menambah perbendaharaan kata baru di luar jam pelajaran formal. Lebih dari itu, mayoritas lagu yang populer mulai dari nasyid, kasidah, hingga pop religi memuat pujian kepada Allah SWT dan selawat kepada Rasulullah SAW.
“Mendengarkan lagu Arab itu rasanya seperti dzikir yang dilagukan. Nada-nadanya menenangkan hati dan liriknya membuat kita semakin rindu dengan Baginda Nabi,” ujar Dinda, salah satu santri senior di Malang.
Filter Budaya dan Jembatan Historis
Di tengah gempuran tren musik global yang kian bebas, musik Arab menjadi alternatif hiburan yang dinilai “aman” oleh para pengasuh pesantren (Kiai dan Nyai). Musik ini berfungsi sebagai filter budaya yang menjaga adab dan memberikan dampak psikologis positif bagi perkembangan karakter santri.
Faktor lain yang tidak kalah kuat adalah kedekatan historis. Pesantren memiliki ikatan keilmuan yang sangat erat dengan pusat peradaban Islam di Timur Tengah, seperti Makkah, Madinah, Yaman, dan Mesir. Melodi khas Padang Pasir ini kerap memicu motivasi dan membakar semangat para santri yang bercita-cita melanjutkan studi ke tanah suci.
Pada akhirnya, popularitas musik Arab di kalangan santri menegaskan bahwa seni dan spiritualitas tidak harus saling bertolak belakang. Ketika dikemas dengan lirik yang santun dan sarat makna, musik mampu bertransformasi menjadi instrumen edukasi dan dakwah yang ampuh sekaligus memperkokoh identitas pesantren sebagai benteng moral di era modern. (Ais)











