Home Berita PENDIDIKAN STIKes Kendedes Edukasi Kader Desa, Perkuat Deteksi Dini Kanker Payudara dan Serviks

STIKes Kendedes Edukasi Kader Desa, Perkuat Deteksi Dini Kanker Payudara dan Serviks

MALANG – Upaya meningkatkan kesadaran masyarakat terhadap pentingnya deteksi dini kanker payudara dan kanker serviks terus dilakukan. Salah satunya melalui kegiatan edukasi yang digelar Program Studi Sarjana dan Profesi Kebidanan STIKes Kendedes Malang bagi kader kesehatan dan perempuan usia subur (WUS) di Desa Slamet, Kecamatan Tumpang, Kabupaten Malang.

Kegiatan yang berlangsung pada Sabtu (18/7/2026) tersebut merupakan bagian dari program Kejar Hebat (Kendedes Mengajar Herbal Komplementer) sekaligus implementasi penelitian mengenai validasi model prediksi risiko kanker serviks dan pemanfaatan herbal sebagai pendukung pencegahan kanker pada perempuan usia subur.

Sekitar 55 kader kesehatan dari berbagai posyandu mengikuti kegiatan yang dipusatkan di Dusun Wringinanom. Turut hadir Bidan Desa Slamet, Ning F.U., Amd.Keb., serta perawat desa Trio R.P., Amd.Kep., yang memberikan dukungan terhadap pelaksanaan program.

Ketua pelaksana kegiatan, Dr. Indah Mauludiyah, SST., MPH, mengatakan kader kesehatan memiliki peran penting sebagai ujung tombak penyebarluasan informasi kesehatan di lingkungan masyarakat. Oleh karena itu, peningkatan kapasitas kader dinilai menjadi langkah strategis dalam mendorong pencegahan penyakit sejak dini.

“Kader merupakan mitra utama kami karena mereka berinteraksi langsung dengan masyarakat. Pengetahuan yang diperoleh diharapkan dapat diteruskan kepada ibu-ibu melalui berbagai kegiatan di tingkat desa,” ujarnya.

Dalam kegiatan tersebut, peserta mendapatkan materi mengenai pemeriksaan payudara sendiri (SADARI) sebagai metode sederhana untuk mendeteksi dini kanker payudara, serta pentingnya skrining kanker serviks melalui pemeriksaan IVA maupun Pap Smear.

Tim pemateri juga menjelaskan berbagai tanda awal yang perlu diwaspadai, mulai dari munculnya benjolan pada payudara, perubahan bentuk payudara, hingga keluarnya cairan tidak normal dari puting. Selain itu, peserta diajak memahami faktor-faktor yang dapat meningkatkan risiko kanker serviks, seperti pernikahan pada usia dini, penggunaan kontrasepsi hormonal jangka panjang tanpa pemantauan tenaga kesehatan, riwayat keputihan abnormal, hingga belum pernah menjalani pemeriksaan skrining.

Sebagai bagian dari penelitian, STIKes Kendedes turut memperkenalkan aplikasi berbasis kecerdasan buatan (AI) bernama CerviCheck yang dirancang untuk membantu masyarakat mengenali tingkat risiko kanker serviks melalui proses skrining awal. (hy/rul)